Angsa Jenius

"Jika tidak sibuk dengan kebaikan, berarti kita tengah sibuk dalam keburukan, atau minimal kesia-siaan."

Untuk Ibu Beranak Dua yang Menggores Luka

Friday, October 04, 2019


Hiduplah dua kakak beradik di sebuah rumah yang dihuni bersama ayah dan ibunya. Berempat, mereka berjanji saling menjaga dan saling menyayangi. Namun, janji selalu memiliki rintangan ketika akan ditepati.

Sering kali, kakak mencubit adiknya terlalu keras hingga berbekas. Biru lebam yang bertahan hingga beberapa hari, menyisakan tangis tiap kali bekasnya tersenggol. Bukan cubit lantaran benci, kakak mencubit lantaran gemas.

Di lain waktu, kakak mengambil paksa mainan adik hingga adik menangis histeris. Sang ibu terkejut, tak sempat berpikir jernih, ia tegur anak sulungnya dengan suara keras. Sekarang, kedua anaknya menangis.

Hari berikutnya, kakak sedang fokus bermain lego. Ia susun dengan hati-hati tiga potong kue yang diberi lilin tinggi, kemudian diletakkan di pinggir meja seraya berkata bangga "Aku jualan kuee, ibu mau nggaaak?", lalu adik menghampiri. Dengan mata berbinar, ia raih kue dari lego yang disusun kakaknya. Kakak marah, ia dorong adiknya hingga terbentur kepalanya. Ibu terkejut, tak sempat berpikir jernih, ia tegur kakaknya dengan suara keras dan tangan terangkat ke udara. Seperti hendak memukul, tapi berhasil ia tahan. Tangannya hanya memukul udara, tak mengenai kulit anaknya. Namun sepertinya, udara mewakili hati anak sulungnya. Hati anak sulungnya ikut terluka meski rasa sakit pukulan itu tak dirasakannya.

Anak dua.
Bukan kakak yang meminta ia menjadi yang pertama.
Bukan ia juga yang meminta ibu melahirkan orang lain yang harus ia panggil adik, yang serta merta harus ia jaga, harus rela ia berbagi mainan padanya, harus rela waktu berpelukan sebelum tidur terbagi dua, harus rela memeluk ibu dari punggungnya karena ibu sedang menyusui adik sedangkan ia sangat ingin dipeluk ibu di penghujung hari, untuk melepas lelahnya, mencari sumber ketenangannya.

Anak dua.
Apakah melindungi yang satu berarti harus melukai yang lain?
Apakah mencegah adik terluka berarti harus mengganti menggores luka pada kakaknya?

Untuk semua ibu yang sedang berjuang mencintai anaknya, berkali-kali menghela nafas panjang sambil memejamkan mata hanya agar tak terlontar kata-kata menyakitkan yang menggores jiwanya, kita sedang berjuang bersama. 

Jawaban Orang Tua Pemalas

Tuesday, October 01, 2019


Anak-anak adalah makhluk paling ingin tahu sedunia. Aku pernah baca, dalam 12 jam, mereka bertanya 300 pertanyaan. Dan 82% anak-anak biasanya lebih dulu nanya sama ibu dibanding sama ayahnya. Itu pun ketika nanya ayah, 24% akan dijawab "Sana tanya ibu.". Artinya dalam satu jam rata-rata akan terlontar 25 pertanyaan.

Kenapa? Itu apa? Ini gimana? Kok bisa?
Daaaan seterusnya, dan seterusnya.

Kabar baiknya, otak anak balita lagi kinclong-kinclongnya, mereka bisa menyerap apa pun dengan sempurna. Tanpa filter. Dan apa yang mereka dengar akan membentuk persepsi mereka tentang dunia. Sejak beberapa bulan lalu, Afiqa lagi sering nanyain soal polisi karena lagi banyak razia di jalan. "Buk itu pak polisi ya? Ngapain sih buk?" dan dijawab "Oh itu lagi razia, kalau naik motor nggak pakai helm nanti ditilang. Stop! Siapa ini kok nggak pakai helm?"

Dua bulan sejak itu, Afiqa jadi sering cerita tentang polisi, tapi yang diulang-ulang adalah polisi nyetop lalu nilang kita karena kita nggak pakai helm. Eh nyetop itu sebuah kata atau bukan ya hahaha, ya pokoknya paham lah ya maksud aku. Di situ aku sadar ada yang salah. Persepsi Afiqa tentang polisi harus diluruskan, karena yang ditangkap oleh Afiqa polisi itu tukang tilang, kalau nggak pakai helm nanti dimarahin pak polisi.

Setiap hari aku harus mengulang-ulang bahwa polisi itu tugasnya mengatur biar lalu lintas tertib. Pakai helm itu supaya aman, bukan supaya tidak ditilang. Pak polisi itu tidak suka asal nyetop, dia nyetop pas ada razia aja, itu pun kalau kita melanggar aturan. Kita diingatkan supaya kita aman.

Setiap hari, berkali-kali aku meluruskan persepsinya supaya nggak salah. Bisa aja kudiamkan, tapi apa ya aku rela dia tumbuh dengan pemahaman yang salah?

Hal serupa tapi tak sama aku temui juga ketika ada anak yang di rumah susah makan, lalu ibunya bilang "Ayo makan, kalau nggak mau makan nanti dimarahin bu guru loh." Duh pengin nangis dengernya 😓😓 Familiar nggak sama kasus begini?

Atau ketika anak nggak mau diajak berdoa sebelum tidur, trus orang tuanya bilang "Nanti dimarahin bu ustad loh kalau nggak berdoa."

Atau ketika dia nggak mau gosok gigi, trus orang tuanya bilang "Nanti disuntik trus dibor sama dokter gigi loh soalnya giginya bolong."

Dan ribuan kalimat serupa yang aku yakin kita semua udah pernah dengar. Buat aku, kalimat-kalimat begitu adalah kalimat yang keluar dari mulut orang tua yang malas menjelaskan. Karena itu kaya jalan keluar instan supaya anak melakukan apa yang orang tuanya mau, tanpa anak banyak nanya.

Padahal apa coba hubungannya nggak makan dengan dimarahin bu guru? Nggak ada. Yang ada juga ibu kandungnya yang marah-marah.

Lalu, kalaupun kalimat itu benar secara logika, kaya gigi bolong lalu disuntik dan dibor dokter gigi, secara pembentukan persepsi itu tetap salah. Anak bakal membentuk image dokter gigi sebagai orang yang nggak menyenangkan, suka nyuntik dan ngebor gigi, ah malas lah ke dokter gigi. Akibatnya kita juga yang susah kalau suatu hari nanti gigi anak bolong dan harus dibawa ke dokter gigi.

Boleh nggak setuju, tapi tetap, buatku jawaban-jawaban seperti itu adalah jawaban orang tua yang malas memberi penjelasan dan malas menjawab pertanyaan. Anak bertanya 25 kali sehari, kalau sekarang dijawab asal-asalan, mungkin saat ini masalah selesai, tapi di otaknya akan terbentuk persepsi yang salah.

Masa iya sih rela anak sendiri melihat dunia dengan kacamata yang salah?
Pembaca angsajenius jangan gitu ya, aku yakin yang baca blog ini pintar-pintar dan tidak pemalas menjawab pertanyaan anak-anaknya 💖

Salam,
Rahma Djati