Angsa Jenius

"Jika tidak sibuk dengan kebaikan, berarti kita tengah sibuk dalam keburukan, atau minimal kesia-siaan."

Bukan Cuma Parenting, Kita Juga Harus Belajar Childrening

Sunday, August 18, 2019
We learn about parenting, we learn about how to be a good parent. But, do we learn about childrening? Well maybe that's not even a word. Do we learn about how to be a good child to our parents and in laws? Do you?



Trend Ibu Milenial, Belajar Parenting

Banyak yang menyebutnya sebagai kebutuhan, which I agree. Tapi makin ke sini belajar parenting nggak cuma jadi kebutuhan melainkan udah jadi trend. Di manapun kamu berada, kamu bisa nemu seminar parenting dengan mudah, minimal bermodal smartphone yang seminarnya diadain via kuliah whatsapp (kulwap) atau video conference. Pembahasan ini nggak pernah luput dari setiap grup ibu-ibu muda, yang kemudian disusul dengan banyaknya referensi buku, link video, link blog dan link marketplace bermunculan. Mulai dari hal mendasar kaya eek anak aku normal nggak ya, ini bruntusan alergi atau kena ASI ya, sampai dengan how to handle temper tantrum, pendidikan seks sejak dini, dan isu-isu parenting lain. Kalau ditulis satu-satu, mungkin postingan ini bakal jadi cerbung 12 episode 😂

Informasi yang sekedar tahu tapi banjir saking banyaknya yang dibaca. Aku yakin setiap ibu baru pernah ngalamin tsunami informasi, terlalu banyaaakk info yang diterima, dari buku, instagram, grup watsap, blog orang, video, materi kulwap, hingga akhirnya........... bang! Your brain give up, you cannot handle it anymore. Lalu bingung, harus ngikutin yang mana karena ada banyak sumber, banyak pula yang kontradiktif. 

Lalu.... 
Kita belajar lagi, demi menjaga amanah yang ditunggu-tunggu ini. Seminar lagi, baca lagi, nontonin video seminar lagi. Ratusan ribu mah enteng, jutaan juga dikeluarin demi anak mah. Memang, pengeluaran buat anak ini emotional buying, mak. You got to admit it. Butuhnya sabun mandi, yang harga tigapuluh ribu aja cukup sebenernya karena ngga ada alergi dan semua fungsi sabun terpenuhi, tapi atas asas "demi anak", dan atas rekomendasi ibu-ibu di grup, rasanya kamu harus memberikan yang lebih baik buat anak. Ada yang lebih baik, kenapa harus beli yang lebih murah. Akhirnya belilah sabun seharga seratus ribu. 

Sedangkan krim malam emaknya beli yang share in jar biar hemat 😂 

All out banget pokokmen. Semuanya atas asas "demi anak, masih mau coba-coba?" loh kok kaya slogan minyak kayu putih.

Meanwhile...............................

Pernah ngga kita belajar tentang birrul walidain? Belajar dengan serius gimana menjadi anak, seserius kita belajar menjadi orang tua. Pernah?

Karena seringnya, kita merasa jago seiring jam terbang. Kalau kata pepatah alah bisa karena biasa, padahal ya belum tentu juga. Kita merasa nggak perlu belajar menjadi anak yang baik seperti apa karena kita merasa udah bisa jadi anak yang baik, toh udah puluhan tahun jadi anak masa iya selama ini nggak baik, selama ini salah dong?

Dan, manusia cenderung nggak suka mengakui kesalahan, jadi untuk ngaku selama ini belum baik ke orang tua aja pasti butuh proses yang nggak sebentar. Minimal proses gejolak batin sendiri, maju mundur. Kayanya aku banyak salah deh sama ibu, ah tapi ibu juga sih begitu sikapnya ke aku jadi ya wajar lah bukan salahku juga. Misalnya.

Setelah baca ini, mungkin sudah saatnya kita berkaca, sudah sebaik apa kita menjadi anak buat orang tua dan mertua? Menjaga perasaannya, cara berkomunikasi dengan orang tua yang biasanya kembali kaya anak kecil maunya semua diturutin, tentang membantu orang tua secara finansial, ketika berkonflik harus gimana. Wah ini panjang banget sih kalau ditulis satu-satu, insyaa Allah next post ya aku jabarin, oke!

Biar lengkap, bantu aku dong bikin daftar hal-hal esensial yang harus kita pelajari sebagai anak. Kalau sebagai ibu kan banyak tuh misalnya handling tantrum, mpasi, kesehatan anak dan pertolongan pertama, soal gadget dan anak, daaaan ratusan hal lain yang nggak kalah pentingnya. Nah kalau sebagai anak, apa lagi ya?
4 comments on "Bukan Cuma Parenting, Kita Juga Harus Belajar Childrening"
  1. Btw, kalau buka di desktop ada halaman putih di bagian atas, hampir setengah layar, yang nutupin ya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. waakkss iya ternyata, ada salah edit layout. makasih kak udah ngasih tahu :(

      Delete
  2. In the first statement, the parent is talking about the behavior and making a clear rule. In the second statement, the child is held responsible for the parent's feeling.best baby bibs

    ReplyDelete
  3. A similar situation exists with children whose mothers are incarcerated with the expectation of maintaining the mothers' custody of their children. https://www.whyienjoy.com/

    ReplyDelete

Terima kasih sudah membaca! Silakan tinggalkan komentar di bawah ini :)

EMOTICON
Klik the button below to show emoticons and the its code
Hide Emoticon
Show Emoticon
:D
 
:)
 
:h
 
:a
 
:e
 
:f
 
:p
 
:v
 
:i
 
:j
 
:k
 
:(
 
:c
 
:n
 
:z
 
:g
 
:q
 
:r
 
:s
:t
 
:o
 
:x
 
:w
 
:m
 
:y
 
:b
 
:1
 
:2
 
:3
 
:4
 
:5
:6
 
:7
 
:8
 
:9